Thursday, December 15, 2005 

80/2

Starting from a hint, a bit, a shred, a piece of meaningless puzzle or a spoonful of caffeine that would not be sipped without warm water and sugar. That is what we were.

Intersected by diminutive part… to be assembled in a large collision thereafter.

If only we intersected in a different way.
If only we intersected in a different way.
If only we intersected in a different way.

And now we’re forever zero.

My apologize...

 

Pertemanan & selembar tissue basah

Pernah terlibat dalam situasi ini gak? Sekumpulan sahabat sepermainan di sekolah ketika lulus berjanji akan selalu memberi kabar dan nggak bakalan sombong dan berjanji menjadi teman selamanya dengan segel saus tomat di ujung jari. Rata-rata semua orang pernah kali ya?

Kalo saya pernah banget, malah bisa dibilang selalu, mulai dari SD. Bentuk ikrarnya berbeda-beda sih tapi kurang lebih isinya sama, menjaga tali silaturahmi. Dan memang ikrarnya tetap terjaga, dengan ketemuan setaun sekali buka puasa bersama (itu juga tidak setiap tahun), nge-add di friendster (God bless the creators), atau menyapa pas kebetulan ketemu di mall.

Menyapa. Dengan template yang paling klise yang herannya tetep saja masih saya ulang-ulang.

"Hei apa kabar?" atau "Ya ampun udah lama banget kita gak ketemu..."
"Kapan ya kita kumpul sama anak-anak?" atau "Kemarin gue ketemu si itu di Citos"
"Bener ya... serius kita harus pergi bareng!"
"Nomer HP lo masih yang dulu?"
...

Dan seolah-olah saya mendapat pencerahan dalam pembicaraan mengenai selembar tissue basah di Sushi Tei, Plaza Senayan.

Di sinilah saya, merasa sangat beruntung, duduk bersama teman-teman kuliah saya. Yang selalu mencari waktu buat ketemu walau ngumpulin komplit semua personilnya sulit. Yang masih sering bercerita mengenai segala hal. Yang masih ada di segala situasi.

Mungkin awalnya kita gak nyangka, dimulai dari kelas kuliah, jalan bareng di supermal, ngobrol di menza, UTS, UAS, kerja praktek, magang, skripsi, pacaran, putus, sampe pacaran lagi, putus lagi, sakit, kawin, punya anak, kerja, berhenti kerja, pindah kota, ke luar negeri, kuliah lagi. Dan mereka masih di situ.

Dan rasanya kita bukan sekedar teman selamanya, tapi sodara. Karena biarpun kadang BT, kadang kesel, kadang jengkel, namun pada akhirnya kita tetep ketawa bareng dan sedih bareng. Dan dengan mereka, saya gak mau sekedar menyapa.

"Trus gimana tissue basahnya tadi?"

Note: Thx to Dwi dan Lia yang selalu maksa kita ketemu.

Powered for Blogger
by Blogger Templates